Selasa, 17 April 2012

makalah "LANDASAN DAN PENDEKATAN KURIKULUM"


BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Menurut Soedijarto, Sebuah Pengalaman Pemikiran Bagi Prosedur Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum Perguruan Tinggi BP3K Departemen P dan K 1975, dinyatakan bahwa kurikulum adalah segala pengalaman dan kegiatan belajar yang direncanakan dan diorganisir untuk diatasi oleh para siswa atau para mahasiswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh suatu lembaga pendidikan.[1]
Kurikulum merupakan suatu alat yang dipakai untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing masing satuan pendidikan. Sejalan dengan ketentuan tersebut, perlu ditambahkan bahwa pendidikan nasional berakar pada kebudayaan nasional dan pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan undang Undang Dasar 1945.[2]
Kurikulum, dalam hal ini, membutuhkan landasan yang kuat agar dapat dikembangkan oleh sekolah. Namun, pada kenyataaannya kurikulum dibuat sesuai standar kompetensi dan standar nasional yang dibuat dan ditetapkan oleh pemerintah. Seharusnya, pengembangan kurikulum itu dilakukan oleh sekolah atau lembaga pendidikan tersebut yang lebih mengerti dan paham kurikulum seperti apa yang lebih dibutuhkan. Pengalaman selama setengah abad negeri ini mengelola sendiri sistem pendidikannya menunjukkan, setiap kali muncul pembicaraan yang mengarah pada upaya perbaikan sistem pendidikan nasional selalu yang menjadi titik berat perhatian adalah pembenahan kurikulum.[3]
Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Apakah benar kurikulum memang memiliki dasar dan landasan yang kuat yang memang disiapkan agar peserta didik, pendidik, orang tua dan komponen pendidikan lainnya sesuai dengan tujuan pendidikan dan standar pendidikan. Apa yang mendasari itu semua? Benarkah kurikulum itu dibuat untuk memperbaiki kurikulum yang lama dengan kurikulum yang baru, yang sering disebut dengan evaluasi kurikulum? Dimana sistem evaluasi digunakan  untuk menentukan tingkat pencapaian keberhasilan peserta didik dalam bentuk hasil khusus.[4]

B.     RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, maka kami mendapat permasalahan yang dapat dirumuskan, antara lain:
1.      Bagaimanakah Landasan Pengembangan Kurikulum
2.      Bagaimanakah Dasar Pengembangan Kurikulum
3.      Bagaimanakah Pendekatan-Pendekatan Pengembangan Kurikulum

C.     TUJUAN PENULISAN
1.      Mengetahui Landasan Pengembangan Kurikulum
2.      Mengetahui Dasar Pengembangan Kurikulum
3.      Mengetahui Pendekatan Pengembangan Kurikulum

D.     KEGUNAAN
Dalam pembuatan makalah ini, ada beberapa manfaat yang dapat diambil:
1.      Adanya  makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumbangan pemikiran terhadap suatu ilmu.
2.      Penyusunan makalah ini dapat dikaji bersama dalam forum diskusi
3.      Mencari solusi yang bijak dalam menyelesaikan masalah yang timbul dalam forum diskusi.


BAB II
PEMBAHASAN

A.     PENGEMBANGAN KURIKULUM
Kurikulum informal terdiri atas kegiatan yang direncanakan, namun tidak langsung berhubungan dengan kelas atau mata pelajaran tertentu dan kurikulum itu dipertimbangkan sebagai pelengkap bagi kurikulum formal. Kurikulum formal mengikuti rencana kurikulum itu sendiri dan rencana pengajaran yang keduanya ini akan menjadi fokus pembicaraan kita, yaitu apakah pengembangan kurikulum itu? Pengembangan kurikulum adalah proses yang mengaitkan satu komponen kurikulum lainnya untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik.[5]
Berdasarkan pandangan di atas bahwa keberhasilan kegiatan pengembangan kurikulum dalam proses pendidikan dan pengajaran dijumpai beberapa hal pokok yang harus dipertimbangkan oleh para pengembang kurikulum. Pertama, adalah filsafat hidup bangsa, sekolah dan guru itu sendiri. Dalam hal ini negara Indonesia adalah negara Pancasila. Jadi segala kegiatan sekolah atau proses belajar mengajar yang diselenggarakan di sekolah harus diarahkan pada pembentukan pribadi peserta didik ke arah manusia Pancasila.[6]


Kedua adalah pertimbangan harapan, kebutuhan dan permintaan masyarakat akan produk pendidikan. Hal ini berarti asas relevansi pengembangan kurikulum harus dijaga. Disamping itu kondisi masyarakat lokal perlu dipertimbangkan dalam pengembangan kurkulum.[7] Ketiga, hal yang penting dalam pengembangan kurikulum adalah kesesuaian kurikulum dengan kondisi peserta didik. Sebab kurikulum pada dasarnya adalah untuk peserta didik. Oleh karena itu dalam pengembangan kurikulum para pengembang kurikulum harus memperhatikan karakteristik peserta didik, baik karakteristik umum maupun khusus.[8]
Keempat, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan sesuatu yang tidak dapat dipungkiri untuk dipertimbangkan dalam proses pengembangan kurikulum. Pada hakikatnya kurikulum berisikan ilmu pengetahuan dan teknologi (meskipun tidak semua isi kurikulum). Tetapi pada hakikatnya ilmu pengetahuan yang ada sedang berkembang dan dikembangkan perlu dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum.[9]
Pengembangan kurikulum merupakan bagian yang esensial dalam proses pendidikan. Sasaran yang dicapai bukan semata mata memproduksi bahan pelajaran melainkan lebih dititikberatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pengamanan kurikulum merupakan proses yang menyangkut banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Disamping keempat determination sets tersebut di atas, masih banyak lagi hal yang perlu dipertimbangkan misalnya pertentangan akan pernyataan tentang kurikulum. Siapa yang terlibat dalam pengambangan kurikulum, bagaimana prosesnya, apa tujuannya dan kepada siapa ditujukan. Untuk menjawab permasalahan ini, maka perlu ditinjau lagi tentang  pengembangan kurikulum menurut pendapat beberapa hal lain.[10]

Menurut Tyler, landasan kurikulum terdiri dari landasan filosofis, sosial, budaya dan psikologis. Pendapat tersebut serupa dengan yang dikemukakan Murray Print bahwa landasan kurikulum terdiri dari landasan filosofis, sosial budaya, dan psikologi, Perkembangan ilmu dan teknologi, perkembangan terakhir beliau menambahkan atau melengkapi landasan tersebut dengan landasan manajemen (organisatoris).[11]

Beberapa landasannya antara lain:
1.      Landasan Pengembangan Secara Filosofis
Landasan filosofis pancasila yang dianut oleh Negara kita dengan prinsip demokratis, mengandung makna bahwa peserta didik diberi kebebasan untuk berkembang dan mampu berfikir intelegen dikehidupan masyarakat, melakukan aktivitas yang dapat memberikan manfaat terhadap hasil akhir dan menekankan nilai-nilai manusiawi dan kultural dalam pendidikan.[12]
2.      Landasan Pengembangan Secara Psikologis
Teori belajar dijadikan dasar bagi proses belajar mengajar. Dengan demikian ada hubungan yang erat antara kurikulum dengan psikologi belajar dan psikologi anak.[13]
Para ahli pengembangan kurikulum selalu menjadikan anak sebagai salah satu pokok pemikiran, agar anak dapat belajar, dapat menguasai sejumlah pengetahuan, dapat mengubah sikapnya, dapat menerima norma-norma dan dapat menguasai sejumlah keterampilan. Persoalan yang penting ialah bagaimana anak itu belajar, dalam keadaan yang bagaimana pelajaran itu memberi hasil yang sebaik-baiknya, maka kurikulum dapat direncanakan dan dilaksanakan dengan cara yang efektif terhadap suatu proses yang pelik dan komplek tersebut, maka timbullah berbagai teori belajar.[14]
3.      Landasan Pengembangan  Secara Sosial Budaya.
Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat heterogen di tiap daerah dan masyarakatnya. Oleh sebab itu, masyarakat merupakan suatu faktor yang begitu penting dalam penggembangan kurikulum sehingga aspek sosiologis dijadikan salah satu asas. Dalam hal ini pun kita harus menjaga, agar asas ini jangan terlampau mendominasi sehingga timbul kurikulum yang berpusat pada masyarakat atau “ society centered curriculum “. Di Indonesia belum tertuju kearah itu, tetapi perhatian terhadap perkembangan kebudayaan yang ada di masyarakat sudah diwujudkan dalam bentuk kurikulum muatan lokal di tiap daerah. Dengan dijadikannya sosiologis sebagai landasan pengembangan kurikulum, maka peserta didik nantinya diharapkan mampu bekerja sesuai dengan kebutuhan masyarakat.[15]
4.      Landasan Pengembangan Kurikulum Dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Landasan ini berkenaan dengan perkembagan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni. Salah satu ciri dari masyarakat adalah selalu berkembang. Masyarakat yang berkembang karena dipengaruhi perkembangan ilmu dan tekhnologi, yang memiliki pengaruh yang cukup kuat pada pengembangan kurikulum, terutama teknologi industri, transportasi, komunikasi, telekomunikasi dan elektronik yang menyebabkan masyarakat berkembang sangat cepat menuju masyarakat terbuka, masyarakat informasi dan global. Perubahan ini akan mempengaruhi perkembangan setiap individu warga masyarakat, mempengaruhi pengetahuan, kebiasaan bahkan pola-pola hidup mereka.[16]
Dengan IPTEK sebagai landasan, peserta didik diharapkan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan kesenian sesuai dengan sistem nilai, kemanusiawian dan budaya bangsa.[17]

5. Landasan Pengembangan Kurikulum Secara Organisatoris

Landasan ini berkenaan dengan bentuk organisasi bahan pelajaran yang disajikan. Bagaimana bahan pelajaran akan disajikan. Apakah dalam bentuk bidang studi yang terpisah-pisah, ataukah di usahakan adanya hubungan antara pelajaran yang diberikan, misalnya dalam bentuk broad field atau bidang studi seperti yang dilaksanakan di Indonesia pada saat ini. Contoh IPA, IPS, Bahasa dan lain-lain. Berdasarkan ilmu jiwa Gestalt lebih mengutamakan keseluruhan. Karena kurikulum itu bermakna dan lebih relevan dengan kebutuhan anak dan masyarakat. Aliran psikologi ini lebih cenderung memilih kurikulum terpadu atau integrated curriculum.[18]
Mengacu kepada landasan pengembangan kurikulum di atas, maka tujuan kegiatan siswa akan menekankan pada pengembangan sikap dan perilaku agar berguna dalam suatu kehidupan masyarakat yang demokratis.[19]
Dasar atau asas kurikulum adalah kekuatan kekuatan utama yang mempengaruhi dan membentuk materi kurikulum susunan atau organisasi kurikulum. Dasar atau asas kurikulum disebut juga sumber kurikulum atau determinant kurikulum. [20]
Herman H.Horne, memberikan dasar atau asas kurikulum dengan tiga macam yaitu:
  1. Dasar Psikologis, yang digunakan untuk mengetahui kemampuan yang diperoleh dari pelajar dan kebutuhan anak didik (The ability and needs of children).
  2. Dasar Sosiologis, yang digunakan untuk mengetahui tuntutan yang sah dari masyarakat (The legitimate demans of society).
  3. Dasar Filosofis, yang digunakan untuk mengetahui keadaan alam semesta tempat kita hidup (the kind of univrse in which we live).[21]
Namun pendapat di atas sesungguhnya belum menjamin bahwa suatu kurikulum dapat dijadikan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, karena belum memasukkan nilai nilai yang wajib yang diresapi oleh peserta didik sejalan dengan tujuan yang ditetapkan.[22]
As Syaibani menetapkan lima dasar pokok kurikulum pendidikan yaitu dasar religi, falsafah, psikologis, sosiologis dan organisatoris.
  1. Dasar Religius, dasar yang ditetapkan berdasarkan nilai nilai Ilahi yang tertuang dalam al Qur`an, Sunnah karena kedua kitab tersebut merupakan nilai kebenaran yang universal, abadi dan bersifat futuristik.[23]
  2. Dasar Falsafah, dasar ini memberi arah dan kompas tujuan pendidikan. Dengan dasar filosofis sehingga susunan kurikulum mengandung satu kebenaran terutama kebenaran dibidang nilai nilai sebagai pandangan hidup yang diyakini dari suatu kebenaran. Hal tersebut karena satu kajian filsafat adalah sistem nilai, baik yang berkaitan dengan cara hidup dan kehidupan, norma norma yang muncul dari individu sekelompok masyarakat ataupun bangsa yang dilatarbelakangi pengaruh agama, adat istiadat dan konsep individu tentang pendidikan.[24]
  3. Dasar Psikologis, dasar ini mempertimbangkan tahapan psikis anak didik yang berkaitan dengan perkembangan jasmaniah, kematangan, bakat bakat jasmani, intelektual, bahasa, emosi, sosial, kebutuhan dan keinginan individu, minat dan kecakapan. Dasar psikologis terbagi kepada dua macam, yaitu: pertama psikologi belajar, hakikat anak itu dapat dididik, dibelajarkan dan diberikan sejumlah materi dan pengetahuan. Disamping itu hakikat anak dapat merubah sikapnya serta dapat menerima norma norma, dapat mempelajari keterampilan keterampilan berpijak dari kemampuan anak tersebut. Oleh karena itu bagaimana kurikulum memberikan peluang belajar bagi anak tersebut dan bagaimana proses belajar berlangsung, serta dalam keadaan bagaimana anak itu memberi hasil yang sebaik baiknya. Kedua psikologi anak, setiap anak mempunyai kepentingan yakni untuk mendapatkan situasi situasi belajar kepada anak anak untuk mengembangkan bakatnya. Oleh karena itu wajarlah bila anak merupakan faktor penentu dalam pembinaan kurikulum yang berlangsung selama proses belajar mengajar.[25]
  4. Dasar Sosiologis, dasar ini memberikan implikasi bahwa kurikulum pendidikan memegang peranan penting terhadap penyampaian dan pengembangan kebudayaan, proses sosialisasi individu, rekonstruksi masyarakat. Meskipun sering kita temukan kesulitan dalam bentuk kebudayaan macam apa yang patut disampaikan serta ke arah mana proses sosialisasi dan bentuk masyarakat yang bagaimana yang ingin direkonstruksikan sesuai dengan tuntutan masyarakat. Hal tersebut karena tidak mudah mengkaji tuntutan masyarakat terutama karena adanya pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyebabkan masyarakat selalu dalam proses perkembangan sehingga tuntuannya dari masa kemasa tidak selalu sama.[26]
  5. Dasar Organisatoris, dasar ini mengenai bentuk penyajian bahan pelajaran, yakni organisasi kurikulum. Dasar ini berpijak dari ilmu jiwa assosiasi yang menganggap kurikulum adalah sejumlah bagian bagiannya sehingga menjadikan kurikulum mata pelajaran yang terpisah pisah. Kemudian disusul ilmu jiwa Gestalt yang menganggap kurikulum mempengaruhi organisasi kurikulum yang disusun secara unit tanpa adanya batas batas antara berbagai mata pelajaran, kedua psikologi tersebut tidak lepas dari keuntungan dan kelebihannya.[27]

C.     Pendekatan Pengembangan Kurikulum PAI

Pendekatan adalah cara kerja dengan menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan mengikuti langkah-langkah pengembangan yang sistematis agar memperoleh kurikulum yang lebih baik.[28]
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap suatu proses tertentu. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Dengan demikian, pendekatan pengembangan kurikulum menunjuk pada titik tolak atau sudut pandang secara umum tentang proses pengembangan kurikulum.[29]
Di dalam teori kurikulum setidak-tidaknya terdapat empat pendekatan yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum, yaitu: pendekatan subjek akademis; pendekatan humanistis; pendekatan teknologis; dan pendekatan rekontruksi sosial.[30]
Ditinjau dari tipologi-tipologi filsafat pendidikan Islam sebagaimana uraian sebelumnya, maka tipologi perennial-esensialis salafi dan perennial-esensialis mazhabi lebih cenderung kepada pendekatan subjek akademis dan dalam beberapa hal juga pendekatan teknologis. Demikian pula, tipologi perennial-esensialis kontektual falsitikatif juga cenderung menggunakan pendekaran subjek akademis dan dalam beberapa hal lebih berorientasi pada pendekatan teknologis dan pendekatan humanistis. Tipologi modernis lebih berorientasi pada pendekatan humanistis. Sedangkan tipologi rekonstruksi sosial lebih berorientasi pada pendekatan rekonstruksi sosial.[31]
Berikut adalah bentuk dari berbagai pendekatan pengembangan kurikulum PAI, antara lain:
1.      Pendekatan Subjek Akademis
Kurikulum disajikan dalam bagian-bagian ilmu pengetahuan, mata pelajaran yang di intregasikan. Ciri-ciri ini berhubungan dengan maksud, metode, organisasi dan evaluasi. Pendekatan subjek akademis dalam menyusun kurikulum atau program pendidikan didasarkan pada sistematisasi disiplin ilmu masing-masing. Para ahli akademis terus mencoba mengembangkan sebuah kurikulum yang akan melengkapi peserta didik untuk masuk ke dunia pengetahuan, dengan  konsep dasar dan metode untuk mengamati, hubungan antara sesama, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Pengembangan kurikulum subjek akademis dilakukan dengan cara menetapkan lebih dahulu mata pelajaran/mata kuliah apa yang harus dipelajari peserta didik, yang diperlukan untuk persiapan pengembangan disiplin ilmu.[32]
Pendidikan agama Islam di sekolah meliputi aspek Al-quran/Hadist, keimanan, akhlak, ibadah/muamalah, dan tarih/ sejarah umat Islam. Di madrasah, aspek-aspek tersebut dijadikan sub-sub mata pelajaran PAI meliputi : Al-quran Hadits, Fiqih, Aqidah Akhlaq, dan sejarah. Kelemahan pendekatan ini adalah kegagalan dalam memberikan perhatian kepada yang lainnya, dan melihat bagaimana isi dan disiplin dapat membawa mereka pada permasalahan kehidupan modern yang kompleks, yang tidak dapat dijawab oleh hanya satu ilmu saja.[33]
2.      Pendekatan Humanistis
Pendekatan Humanistis dalam pengembangan kurikulum bertolak dari ide "memanusiakan manusia". Penciptaan konteks yang akan memberi peluang manusia untuk menjadi lebih human, untuk memprtinggi harkat manusia merupakan dasar filosofi, dasar teori, dasar evaluasi dan dasar pengembangan program pendidikan.[34]
Kurikulum Humanistis dikembangkan oleh para ahli pendidikan Humanistis. Kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi yaitu John Dewey. Aliran ini lebih memberikan tempat utama kepada siswa. Kurikulum Humanistis ini, guru diharapkan dapat membangun hubungan emosional yang baik dengan peserta didiknya. Oleh karena itu, peran guru yang diharapkan adalah sebagai berikut:[35]
1.      Mendengar pandangan realitas peserta didik secara komprehensif.
2.      Menghormati individu peserta didik.
3.      Tampil alamiah, otentik, tidak dibuat-buat
Dalam pendekatan Humanistis ini, peserta didik diajar untuk membedakan hasil berdasarkan maknanya. Kurikulum ini melihat kegiatan sebagai sebuah manfaat untuk peserta dimasa depan. Sesuai dengan prinsip yang dianut, kurikulum ini menekankan integritas, yaitu kesatuan perilaku bukan saja yang bersifat intelektual tetapi juga emosional dan tindakan. Beberapa acuan dalam kurikulum ini antara lain:[36]
1.      Integrasi semua domain afeksi peserta didik, yaitu emosi, sikap, nilai-nilai, dan domain kognisi, yaitu kemampuan dan pengetahuan.
2.      Kesadaran dan kepentingan.
3.      Respon terhadap ukuran tertentu, seperti kedalaman suatu keterampilan.
Kurikulum Humanistis memiliki kelemahan, antara lain:
1.      Keterlibatan emosional tidak selamanya berdampak positif bagi perkembangan individual peserta didik.
2.      Meskipun kurikulum ini sangat menekankan individu tapi kenyataannya terdapat keseragaman peserta didik.
3.      Kurikulum ini kurang memperhatikan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.
4.      Dalam kurikulum ini prisip-prinsip psikologis yang ada kurang terhubungkan.[37]
3.      Pendekatan Teknologis
Pendekatan teknologi dalam menyusun kurikulum agama islam bertolak dari analisis kompetensi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu. Materi yang diajarkan, kriteria evaluasi sukses, dan strategi belajarnya ditetapkan sesuai dengan analisis tugas (job analysis) tersebut. Kurikulum berbasis kompetensi yang sedang digalakkan disekolah/ madrasah termasuk dalam kategori pendekatan teknologis. [38]
Dalam pengembangan kurikulum PAI, pendekatan tersebut hanya bisa digunakan untuk pembelajaran PAI yang menekankan pada know how cara menjalankan tugas-tugas tertentu. Misalnya cara menjalankan shalat, haji, puasa, zakat, mengkafani mayat, shalat jenazah dan seterusnya. Pembelajaran dikatakan menggunakan pendekatan teknologis, bilamana ia menggunakan pendekatan sistem dalam menganalisis masalah belajar, merencanakan, mengelola, melaksanakan dan menilainya, Di samping itu, pendekatan teknologis ingin mengejar kemanfaatan tertentu, sehingga proses dan rencana produknya (hasilnya) diprogram sedemikian rupa, agar pencapaian hasil pembelajaranya (tujuan) dapat dievaluasi dan diukur dengan jelas dan terkontrol. Dari rencana proses pembelajaran sampai mencapai hasil tersebut diharapkan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. [39]
Pendekatan teknologis ini sudah barang tentu memiliki keterbatasan-keterbatasan, antara lain: ia terbatas pada hal-hal yang bisa dirancang sebelumnya, baik yang menyangkut proses pembelajaran maupun produknya. Karena adanya keterbatasan tersebut, maka dalam pembelajaran pendidikan agama islam tidak selamanya dapat menggunakan pendekatan teknologis. Jika dalam sebuah pembelajaran PAI menyangkut perencanaan dan proses bisa dengan pendekatan teknologis akan tetapi ketika harus mengevaluasi tentang keimanan peserta didik atas materi rukun iman misalnya, maka pendekatan teknologis tidak bisa digunakan, karena evaluasi ini sulit untuk diukur.[40]
Berikut contoh pendekatan teknologis dalam pengembangan kurikulum PAI.  Sebagaiman tertuang dalam kurikulum:[41]
1.      Standar kompetensi: Mampu mempraktikkan wudlu dan mengenal shalat fardhu.
2.      Kompetensi dasar: Melaksanakan wudlu.
3.      Hasil belajar:
a) Mampu menjelaskan tatacara wudlu.
b) Mampu menghafal niat wudlu.
c) Mampu menyebutkan sunah-sunah wudlu.
d) Mampu mempraktikan wudlu.
4.      Pendekatan Rekrontruksi Sosial
Kurikulum ini sangat memperhatikan hubungan kurikulum dengan sosial masyarakat dan politik perkembangan ekonomi. Kurikulum ini bertujuan untuk menghadapkan peserta didik pada berbagai permasalahan manusia dan kemanusian. Permasalahan yang muncul tidak harus pengetahuan sosial saja, tetapi di setiap disiplin ilmu termasuk ekonomi, kimia, matematika dan lain-lain. Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional. Menurut mereka pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama. Melalui interaksi ini siswa berusaha memecahkan problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentukan masyrakat yang lebih baik. [42]
Kegiatan yang dilakukan dalam kurikulum rekonstruksi sosial antara lain melibatkan:
1.    Survey kritis terhadap suatu masyarakat.
2.    Studi yang melihat hubungan antara ekonomi lokal dengan ekonomi nasional atau internasional.
3.    Study pengaruh sejarah dan kecenderungan situasi ekonomi lokal.
4.    Uji coba kaitan praktek politik dengan perekonomian.
5.    Berbagai pertimbangan perubahan politik.
6.    Pembatasan kebutuhan masyarakat pada umumnya.[43]
Pembelajaran yang dilakukan dalam kurikulum rekonstruksi sosial harus memenuhi 3 kriteria berikut, yaitu: nyata, membutuhkan tindakan dan harus mengajarkan nilai. Evaluasi dalam kurikulum rekontruksi sosial mencakup spektrum luas, yaitu kemampuan peserta didik dalam menyampaikan permasalahan, kemungkinan pemecahan masalah, pendefinisian kembali pandangan mereka dan kemauan mengambil tindakan.[44]
Dr. Abdullah Idi, M.Ed dalam bukunya Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, menambahkan 3 (tiga) pendekatan pengembangan kurikulum, yaitu:[45]
a.      Pendekatan Berorientasi pada Tujuan
Pendekatan ini menempatkan rumusan atau penempatan tujuan yang hendak dicapai dalam posisi sentral, sebab tujuan adalah pemberi arah dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.
Kelebihan pendekatan pengembangan kurikulum yang berorientasi pada tujuan adalah:
1.      Tujuan yang ingin dicapai jelas bagi penyusun kurikulum.
2.      Tujuan yang jelas akan memberikan arah yang jelas pula dalam menetapkan materi pelajaran, metode, jenis kegiatan dan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan.
3.      Tujuan-tujuan yang jelas itu juga akan memberikan arah dalam mengadakan penilaian terhadap hasil yang dicapai.
4.      Hasil penelitian yang terarah itu akan membantu penyusun kurikulum di dalam mengadakan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.[46]
b.       Pendekatan dengan Pola Organisasi Bahan
Pendekatan ini dapat dilihat dari pola pendekatan:
1)      Pendekatan pola Subject Matter Curriculum
Pendekatan ini penekanannya pada berbagai matapelajaran secara terpisah-pisah, misalnya: sejarah, ilmu bumi, biologi, matematika dan sebagainya. Matapelajaran ini tidak berhubungan satu sama lain.[47]
2)      Pendekatan pola Correlated Curriculum
Pendekatan ini adalah pendekatan dengan pola mengelompokkan beberapa matapelajaran (bahan) yang sering dan bisa secara dekat berhubungan. Misalnya, bidang studi IPA, IPS dan sebagainya.
Pendekatan ini dapat ditinjau dari berbagai aspek (segi), yaitu:
a.     Pendekatan Struktur
Contoh: IPS, terdiri atas Sejarah, Ekonomi, Sosiologi.
b.     Pendekatan Fungsional
Pendekatan ini berdasarkan pada masalah yang berarti dalam kehidupan sehari-hari.
c.     Pendekatan tempat atau daerah
Atas dasar pembicaraan suatu tempat tertentu sebagai pokok pembicaraan.[48]
3)      Pendekatan pola Integrated Curriculum
Pendekatan ini berdasarkan kepada keseluruhan hal yang mempunyai arti tertentu, Misalnya: pohon; sebatang pohon ini bukan merupakan sejumlah bagian-bagian pohon yang terkumpul, akan tetapi merupakan sesuatu yang memiliki arti tertentu yang utuh, yaitu pohon.[49]
c.       Pendekatan Akuntabilitas (Accountability)
Accountability atau pertanggungjawaban lembaga pendidikan tentang pelaksanaan tugasnya kepada masyarakat akhir-akhir ini menjadi hal yang penting dalam dunia pendidikan. Akuntabilitas yang sistematis pertama kali diperkenalkan Frederick Tylor dalam bidang industri pada permulaan abad ini. Pendekatannya yang dikenal sebagai scientific management atau manajemen ilmiah, menetapkan tugas-tugas spesifik yang harus diselesaikan pekerja dalam waktu tertentu. Tiap pekerja bertanggung jawab atas penyelesaian tugas itu.[50]
Menurut Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M.Pd., ada dua pendekatan yang bisa diterapkan dalam pengembangan kurikulum, yaitu:[51]
1.      Pendekatan Top Down
Dikatakan pendekatan top down atau pendekatan administratif, yaitu pendekatan dengan sistem komando dari atas ke bawah. Oleh karena dimulai dari atas itulah, pendekatan ini juga dinamakan line staff mode. Dilihat dari cakupan pengembangannya, pendekatan top down bisa dilakukan baik untuk menyusun kurikulum yang benar-benar baru (curriculum construction) ataupun untuk penyempurnaan kurikulum yang sudah ada (curriculum improvement). Prosedur kerja atau proses pengembangan kurikulum model ini dilakukan kira-kira sebagai berikut: Langkah pertama, dimulai dengan pembentukan tim pengarah oleh pejabat pendidikan. Langkah kedua, adalah menyusun tim atau kelompok kerja untuk menjabarkan kebujakan atau rumusan-rumusan yang telah disusun oleh tim pengarah. Langkah Ketiga, apabila kurikulum sudah selesai disusun oleh tim atau kelompok kerja, selanjutnya hasilnya diserahkan kepada tim perumus untuk dikaji dan diberi catatan-catatan atau direvisi. Langkah Keempat, para administrator selanjutnya memerintahkan kepada setiap sekolah untuk mengimplementasikan kurikulum yang telah tersusun itu.[52]
2.      Pendekatan Grass Roots
Dalam model grass roots atau pengembangan kurikulum yang diawali oleh inisiatif dari bawah lalu disebartluaskan pada tingkat atau skala yang lebih luas, dengan istilah singkat sering dinamakan pengembangan kurikulum dari bawah ke atas. Oleh karena sifatnya yang demikian, maka pendekatan ini lebih banyak digunakan dalam penyempurnaan kurikulum (curriculum improvement), walaupun dalam skala yang terbatas mungkin juga digunakan dalam pengembangan kurikulum baru (curriculum construction).[53]
Ada beberapa langkah penyempurnaan kurikulum yang dapat dilakukan manakala menggunakan pendekatan grass roots ini. Pertama, menyadari adanya masalah. Berawal dari keresahan guru tentang kurikulum yang berlaku. Kedua, mengadakan refleksi. Refleksi dilakukan dengan mengkaji literature yang relevan misalnya dengan membaca buku, jurnal hasil penelitian yang relevan dengan masalah yang kita hadapi atau mengkaji sumber informasi lain. Ketiga, mengajukan hipotesis atau jawaban sementara. Guru memetakan berbagai kemungkinan munculnya masalah dan cara penanggulangannya. Keempat, menentukan hipotesis yang sangat mungkin dekat dan dapat dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan. Kelima, mengimplementasikan perencanaan dan mengevaluasinya secara terus-menerus hingga terpecahkan masalah yang dihadapi. Dalam pelaksanaannya kita bisa berkolaborasi atau meminta pendapat teman sejawat. Keenam, membuat dan menyusun laporan hasil pelaksanaan pengembangan melalui grass roots. Langkah ini sangat penting untuk dilakukan sebagai bahan publikasi dan diseminasi, sehingga memungkinkan dapat dimanfaatkan dan diterapkan oleh orang lain yang pada gilirannya hasil pengembangan dapat tersebar.[54]

BAB III
PENUTUP
A.     KESIMPULAN
Pengembangan kurikulum adalah proses yang mengaitkan satu komponen kurikulum lainnya untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik.
Menurut Tyler, landasan kurikulum terdiri dari landasan filosofis, sosial, budaya dan psikologis. Pendapat tersebut serupa dengan yang dikemukakan Murray Print bahwa landasan kurikulum terdiri dari landasan filosofis, sosial budaya, dan psikologi, Perkembangan ilmu dan teknologi, perkembangan terakhir beliau menambahkan atau melengkapi landasan tersebut dengan landasan manajemen (organisatoris)
Herman H.Horne, memberikan dasar atau asas kurikulum dengan tiga macam yaitu: Dasar Psikologis, Dasar Sosiologis, Dasar Filosofis. Sedangkan As Syaibani menetapkan lima dasar pokok kurikulum pendidikan yaitu dasar religi, falsafah, psikologis, sosiologis dan organisatoris.
Menurut Prof. Dr. H. Muhaimin, M.A., ada 4 macam pendekatan dalam pengembangan kurikulum, yakni pendekatan subjek akademis, pendekatan humanistis, pendekatan teknologis dan pendekatan konstruksi sosial.
Kemudian oleh Dr. Abdullah Idi, M.Ed ditambahkan 3 pendekatan lagi, yaitu pendekatan berorientasi pada tujuan, pendekatan dengan pola organisasi bahan dan pendekatan akuntabilitas.
Menurut Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M.Pd membaginya menjadi 2 pendekatan yaitu, pendekatan top down (administrative/dari atas ke bawah) dan pendekatan grass roots (dari bawah ke atas).

B.     SARAN
Kita sebagai penyusun hanya dapat memberi saran bahwa landasan pengembangan kurikulum menjadi sebuah dasar yang harus dipertimbangkan dalam terwujudnya suatu kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Oleh sebab itulah, mari kita sebagai calon guru profesional harus memahami landasan serta pendekatan pengembangan kurikulum agar anak didik kita tidak ketinggalan zaman tapi kita buktikan bahwa kita mampu dan bisa mencerdaskan kehidupan bangsa.

DAFTAR  PUSTAKA

Ali, Muhammad. 1989.Pengembangan Kurikulum di Sekolah.Bandung: Sinar Baru1989.
Andayani, Abdul Madjid dan Dian. 2004.Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Konsep dan Implementasi kurikulum.Bandung : PT Rosdakarya.
Ansyar, Muhammad.1989.Dasar Dasar Perkembangan Kurikulum.Jakarta: P2LPTK
Arifin, M. 1987.Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta: Bina Aksara
 Depdikbud.1979.Kurikulum 1978
Idi, Abdullah. 2007. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Muhaimin. 2010. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Muhaimin.2006.Nuansa Baru Pendidikan Islam, Mengrai Benang Kusut Dunia Pendidikan. Jakarta: PT Raja Gratindo Persada
Nasution, S.1990.Asas-asas Kurikulum. Bandung: Jemmars
Nasution.1993.Pengembangan Kurikulum.Bandung: PT. Citra Aditya Bakti
Sanjaya, Wina. 2010. Kurikulum dan Pembelajaran (Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Jakarta: Kencana
Sanjaya,Wina.2009. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta:Kencana Prenada Media Grup
Soetopo, Hendyat dan Wasty Soemanto.1993.Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum.Jakarta: Bumi Akara
Subandijah. 1986.Pengembangan dan Inovasi Kurikulum.Jakarta: Grafindo
Subandijah.1993. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada


[1] Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto.Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum.(Jakarta: Bumi Akara, 1993) hlm.14
[2] Depdikbud.Kurikulum 1978.1979.hlm 37

[3] Kompas: Selasa, 1 Mei 2001
[4] Subandijah.Pengembangan dan Inovasi Kurikulum.(Jakarta: Grafindo, 1986.) hlm. 37
[5] Subandijah. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum.(Jakarta: Grafindo,1986) hlm.37
[6] Ibid hlm.37
[7] Subandijah. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum.(Jakarta: Grafindo,1986) hlm.37
[8] Ibid hlm.37
[9] Ibid hlm.37
[10] Subandijah. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum.(Jakarta: Grafindo,1986) hlm.38
[11] Abdul Madjid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Konsep dan Implementasi kurikulum 2004.hlm 56-63
[12] Abdul Madjid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Konsep dan Implementasi kurikulum 2004.hlm 56-63
[13] Ibid.hlm:56-63
[14] Ibid.hlm:56-63
[15] Abdul Madjid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Konsep dan Implementasi kurikulum 2004.hlm 56-63
[16] Abdul Madjid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Konsep dan Implementasi kurikulum 2004.hlm 56-63
[17] Ibid.hlm:56-63
[18] Ibid.hlm:56-63
[19] Abdul Madjid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Konsep dan Implementasi kurikulum 2004.hlm 56-63
[20] Ansyar, Muhammad.Dasar Dasar Perkembangan Kurikulum.Jakarta: P2LPTK,1989) hlm.8-10
[21] Arifin,M.Filsafat Pendidikan Islam.(Jakarta: Bina Aksara, 1987).hlm.13
[22] Ibid.,hlm.13
[23] Ali, Muhammad.Pengembangan Kurikulum di Sekolah.(Bandung: Sinar Baru, 1989) hlm.12-13
[24] Ibid.,hlm.13

[25] Nasution,S. Asas-asas Kurikulum. (Bandung: Jemmars,1990) hlm.22-23
[26] Ali, Muhammad.Pengembangan Kurikulum di Sekolah.(Bandung: Sinar Baru, 1989) hlm.13
[27] Nasution,S. Asas-asas Kurikulum. (Bandung: Jemmars,1990) hlm.23
[28] Idi, Abdullah. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik.(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007) hlm.200
[29] Sanjaya, Wina.Kurikulum dan Pembelajaran (Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).(Jakarta: Kencana, 2010) hlm.77
[30] Noeng, Muhadjir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial: Teori Pendidikan Pelaku Sosial Kreatif, Yogyakarta: Rake Sarasin, 2000 dalam Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010 hlm.139
[31] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi. ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2010)  hlm.139-140
[32] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi.( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2010) hlm.140
[33] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi.( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2010) hlm.140
[34] Ibid.,hlm.142
[35] Ibid.,hlm.142
[36] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi.( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2010) hlm.142
[37] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi.( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2010) hlm.143
[38] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi.( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2010) hlm.164
[39] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi.( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2010) hlm.164
[40] Ibid.,hlm.164
[41] Ibid.,hlm.165
[42]Noeng, Muhadjir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial: Teori Pendidikan Pelaku Sosial Kreatif, Yogyakarta: Rake Sarasin, 2000 dalam Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010) hlm.180
[43] Noeng, Muhadjir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial: Teori Pendidikan Pelaku Sosial Kreatif, Yogyakarta: Rake Sarasin, 2000 dalam Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010 hlm.180
[44] Ibid.hlm180
[45] Subandijah., Pengembangan dan Inovasi Kurikulum.(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993) hlm.28 dalam Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik.(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm.200-201
[46] Subandijah., Pengembangan dan Inovasi Kurikulum.(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993) hlm.28 dalam Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik.(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm.200-201
[47] Subandijah., Pengembangan dan Inovasi Kurikulum.(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993) hlm.28 dalam Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik.(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm.200-202
[48] Subandijah., Pengembangan dan Inovasi Kurikulum.(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993) hlm.28 dalam Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik.(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hlm.200-202
[49] Ibid., hlm. 200-202
[50] Nasution.Pengembangan Kurikulum.(Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993) hlm.50 dalam Abdullah Idi.Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik.(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007) hlm.203
[51] Sanjaya, Wina.Kurikulum dan Pembelajaran (Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).(Jakarta: Kencana, 2010) hlm.78-81
[52] Sanjaya, Wina.Kurikulum dan Pembelajaran (Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).(Jakarta: Kencana, 2010) hlm.78-81
[53] Ibid.hlm: 78-81
[54] Sanjaya, Wina.Kurikulum dan Pembelajaran (Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).(Jakarta: Kencana, 2010) hlm: 78-81

Tidak ada komentar:

Posting Komentar